Assalamualaikum Wr.Wb
BUTUH PROPOSAL KEGIATAN
DONLOAD AJA DISINI
TINGGAL KLIK
Wassalamualaikum Wr.Wb
Rabu, 07 Juni 2017
Minggu, 04 Juni 2017
CERPEN GUA
KELUARGA
Malam
itu, seorang gadis kecil terus memandangi langit gelap melalui jendela
berjeruji, bertirai polos yang sengaja ia buka. Angin malam yang begitu
dingin membelai, membuat merah sipu kedua pipinya. Dia tak bisa tidur
sedari sejam yang lalu. Tapi sebab itu bukan karena angin malam yang
dingin.
“Ding..iiin”
suara seorang yang ia kenal. Sesegera mungkin gadis kecil itu menutup
tirai rapat-rapat. “Maaf…” ucap si gadis kecil lirih. “kamu belum tidur
Ros?” tanyanya.
“Belum…” jawab si gadis kecil, pemilik nama ‘Rosa’ itu.
“Kenapa?”
“Aku belum ngantuk kok. Maaf.. udah mbangunin Kak Lisa”
“Ya. Gak apa. Bener, kamu belum ngantuk?” tanyanya untuk yang ketiga kalinya..
“Iya” jawab Rosa tersenyum kecil. “Hmm…, ya udah kalau gitu. Kakak balik tidur lagi. Kamu juga cepat tidur Ros…” perintah Lisa.
“Iya Kak”
Sejenak
gadis kecil memperhatikan punggung perempuan yang ia kenal dengan
sebutan ‘Kak Lisa’ yang telah tertidur. Namun seketika terfikir kembali
hal itu. Lagi.
“Kak…
” panggil si gadis kecil lirih, tapi tak ada jawab. “Kak Lisa… kata
Fika. Kalo kita punya ibu, kita bisa makan makanan enak, terus kalo
sakit, ‘ibu’ perhatian. Apa aja yang kita mau, bakal dikasih. Aku tahu
Kak… itu gak mungkin. Tapi aku mau diulang tahunku yang ke-6 besok bisa
ketemu ibu. Kalau cuman nglihat aja, juga gak apa-apa.” Ungkap gadis
kecil dalam monolog.
“Hmm…“
“Kak Lisa?”
Sebenarnya
Lisa memang sudah terjaga sejak gadis kecil itu tak sengaja membuatnya
terbangun.“Rosa… Kan Kakak dah bilang berapa kali biar kamu tahu. Tadi
kamu bilang udah tahu, tapi tetap kerasa kepala. Sudah pasti kita gak
bisa bertemu. Karena kita tidak punya… Terus, kamu gak usah dengerin
ceritanya si Fika.” Lisa dengan nada sedikit kesal, karena emosi yang
belum stabil sebab sedari bangun tidur.
“Hm.
Iya kak, maaf.” Rosa yang menyesal. “Ya, udah. Gak apa-apa. Sekarang
kamu tidur, besok kita kan bakal ada acara. “ Ungkap Lisa dengan senyum
penuh arti. “Oh, ya Dek. Kalau besok Kakak gak bisa ngasih kado yang
sesuai dengan yang Adek mau. Coba kamu minta sama yang di atas. Percaya
deh, pasti dikabulin” saran Lisa.
“Bisa?” Tanya Rosa dengan polosnya. “Bisa dong!” Jawab Lisa yakin. Rosa tersenyum lebar.
Akhirnya Rosa pun memutuskan untuk segera tidur. Agar acara esok yang ia nanti-nanti sesuai dengan apa yang ia harapkan.
Rosa
memandang langit-langit kamar yang tak nampak, sambil memohon kepada
Yang Maha Kuasa, “Semoga besok aku bertemu Ibu. Tapi kan mustahil. Kalo
gitu, aku mau bertemu keluargaku. Tapi kan di sini juga udah ada
keluargaku. Hah… terus, minta apa? Kalo gitu,” mohonnya dalam batin
sembari berfikir matang-matang apa yang ia harapkan.
“Semoga
aku bertemu dengan keluargaku yang sudah sekian lama tidak bertemu,
siapapun! Kalo gak, yang penting keluargaku yang belum pernah aku temui
juga gak apa-apa. Siapapun!”
***
01 Januari 2002 : 08.00
Pagi yang cerah menyambut secercah senyum itu. Di Panti Asuhan ‘Kasih Ibu’.
“Eii…
bangun Ros. Udah jam 8, inget gak, ini hari apa?” Lisa mencoba
membangunkan Rosa si pemalas untuk yang kesekian kalinya, kali ini
dengan sekuat tenaga dan tanpa ampun.
“Hmm!”
Rosa yang kesal karena Lisa membangunkannya dengan cara yang berbeda.
Yaitu menggelitikinya. “Ahhh! KAK! Hahaha… GELI!” Rosa mulai tak tahan.
Dan akhirnya, menyerah. “Iya, iya aku bangun. Udahan!” Pinta Rosa.
“Nah…
anak pintar. Sekarang mandi, terus bantu-bantu yang lain di luar. Semua
pada sibuk nyiapin acaranya. Hari ini bukan cuman kamu yang dirayain.
Jadi jangan manja ya Adek Rosa” jelas Lisa. “Iya iya iya…” jawab Rosa.
Setelah
selesai dengan urusan pembersihan diri, selanjutnya Rosa pun ikut
membantu. Lisa menyarankan Rosa untuk membantu dalam urusan dekorasi
bersama saudara sebayanya dan dibantu oleh beberapa Kakak yang juga
menuntun mereka. Melipat kertas origami, meniup balon, menggunting
kertas, dan memajang dekorasi yang telah siap. Semua melakukan tugas
masing-masing dengan senang hati.
“Ros,
hari ini bakal ada yang datang loh…” Tiba-tiba saja Bu Rahmah
mengatakan sesuatu sembari menepuk pundak Rosa disaat ia sedang asyiknya
meniup balon. Dan berhasil mengagetkan Rosa walaupun tak ada niat untuk
melakukannya. “Ah! Bu Rahmah?”
“Kamu
pasti seneng.” Bu Rahmah melanjutkan ucapannya barusan. “Ada yang
datang? Siapa?” Rosa sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya
beliau katakan.
“Loh,
belum tahu toh nduk?” tanya Bu Rahmah dengan heran. Rosa yang polos
tetap diam. Mencoba menerka apa yang sebenarnya Bu Rahmah maksudkan.
Tapi semakin ia berfikir, semakin ia tak mampu menemukan jawabannya.
“Ya
sudah, kalo gitu. Nanti Rosa liat aja sendiri. Biar Surprise, ya?” Bu
Rahmah menyarankan. “Emang, siapa Bu? Siapa?” Rosalia yang mulai
dipenuhi rasa penasaran, sudah sampai pada puncak kesabaran.
“Bu
Rahmah! Minta tolong ke sini sebentar, boleh?” terdengar suara wanita
memanggil yang sumbernya berasal dari dapur. “Oh! Nggih Bu!” Bu Rahmah
menyanggupi. Dan akhirnya Bu Rahmah pergi dengan meninggalkan gadis
kecil itu yang dipenuhi rasa penasaran.
Disaat
yang sama, “Ros, temani Kak Lisa ke Supermarket sebentar. Mau?” Lisa
juga muncul disaat yang tak terduga. “Ah! Iya Kak!” Dalam waktu singkat
Rosa melupakan percakapannya dengan Bu Rahamah.
***
01 Januari 2002 : 08.30
Rosalia
Fernanda, sebentar lagi aku akan menjemputnya. Ternyata makan waktu
cukup lama untuk mencapai ke tempat itu. Sedangkan aku berangkat mulai
pukul 7. Aku begitu gugup.
“Umurnya
sekarang 6 tahun ya? Jadi anak itu pasti suka mainan” gumamku sembari
mengemudikan mobil yang melaju dengan pasti. Dipikir-pikir, jarang
sekali aku ini berkomunikasi dengan anak kecil. Bagaimana nantinya kalau
aku bertemu Rosalia, berbicara, atau berperilaku padanya? Hhah… Sinta. Andai kamu masih ada di sisiku.
***
01 Januari 2002 : 08.50
Rosa
dan Lisa telah kembali setelah keperluan mereka. Saat mereka sedang
akan memasuki rumah, Rosa terus mengalihkan perhatiannya pada mobil
hitam yang sudah terparkir sejak sebelum kembalinya mereka dari
berbelanja.
“Ah… akhirnya kita sampai rumah. Capek banget ya Ros.” Rosa pun mengalihkan pandangannya pada Lisa.
“Mau minum Kak, ke dapur yuk!” pinta Rosa. “Ah! Ayo Dek.”
Keadaan saat itu begitu ramainya, hingga Rosa tak sempat untuk memikirkan siapa pemilik mobil itu.
Sekembalinya
Rosa dan Lisa, semua sudah siap pada tempatnya. Tak lama mereka pergi,
tapi urusan telah terselesaikan. Karena acara itu bertepatan setelah
perayaan tahun baru, kemeriahan terompet masih bergema. Kebahagiaan pun
juga turut bergema. Setiap tahunnya, Panti Asuhan ‘Kasih Ibu’ merayakan
hari kelahiran mereka bersama-sama. Jika bulan kelahiran mereka
bersamaan, maka mereka akan merayakan diawal, atau dipertengahan bulan
tersebut. Kebersamaan yang begitu harmonis.
“Nah,
ayo semua kumpul-kumpul sini! Nida, Oki, Eva, Dan Rosa. Kalian berdiri
di belakang sini” perintah Bu Rahmah dan Rosa mengikuti arahannya.
Tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini acara perayaan ulang tahun terasa lebih meriah.
Rosa
sedari tadi hanya terdiam, sedang yang lain menyanyikan lagu ulang
tahun dengan gembiranya. Rosa memandang sekitar, entah apa yang ia cari.
Dan disaat itu, ia menangkap satu sosok yang menarik perhatiaannya sama
seperti saat ia memperhatikan si mobil hitam. Seorang lelaki
berkacamata dengan setelan kemeja putih serta jas hitam. Dalam
keramaian, sosok itu terbilang mencolok. Cukup lama Rosa menatap tajam
pada lelaki berkacamata itu.
Tak selang berapa lama, sosok itu menyadari bahwa Rosa sedang memperhatikannya.
“Ros,
kok diem aja? Ikut tiup lilinnya juga ya.” Bu Rahmah menegur Rosa yang
sedari tadi hanya diam, seakan tak menikmati acara tersebut. Membuat Bu
Rahmah khawatir.
Rosa tersadar. Kemudian ia pun juga mengikuti ketiga saudaranya meniup lilin.
Setelah usai, Rosa berbalik lagi mengalihkan pandangannya pada sosok itu. Namun hasilnya nihil, ia tak menemukannya.
***
“Rosa!
Ayo, ke sini!” terdengar suara Bu Rahmah dari teras depan. Rosa yang
sedang asyik dengan saudara-saudaranya, lalu mencari sang pemilik
suara. “Itu Bu Rahmah di Teras depan” Lisa mengerti maksud gerak-gerik
Rosa. Rosa tersenyum. “Makasih kak.”
Rosa pun menyusul Bu Rahmah yang berada di Teras depan, tak tau apa yang sebenarnya Bu Rahmah inginkan. Rosa hanya menyanggupi.
“Bu
Rahmah, ada a..” belum selesai ia bertanya, Rosa mengalihkan
pandangannya pada seorang selain Bu Rahmah, yang juga ikut duduk di
kursi Teras depan itu.
Sosok
yang beberapa waktu lalu Rosa lihat, yang kemudian hilang dan sekarang
sosok itu berada dihadapannya. “Hai Rosalia!” Lelaki itu menyapanya
dengan senyuman ramah tanpa pamrih. “Ah. Ee… ehm… hha.. lo!” Rosa
berusaha membalas sapaan orang tersebut, tapi terasa begitu sulit
baginya yang baru mengenal seseorang. Bu Rahmah tersenyum, memaklumi
Rosa.
“Rosa
masih inget kan? Waktu Ibu bilang, bakal ada yang datang.” Bu Rahmah
angkat bicara. Akhirnya Rosa teringat kembali perbincangannya dengan Bu
Rahmah. “Oh, yang waktu itu. Terus siapa yang Bu Rahmah maksud?” Rosa
mulai bersemangat kembali.
Bu
Rahmah melihat ke arah yang tertuju pada lelaki berkacamata itu. Rosa
pun juga mengikuti arah pandang Bu Rahmah. Tapi Rosa tetap tak mengerti
isyarat yang Bu Rahmah berikan. Akhirnya Bu Rahmah memberikan
penjelasan. “Dia orang yang Ibu bilang, ‘akan datang ke acara ulang
tahun mu’.”
Lelaki
berkacamata itu tersenyum kembali, lalu ia beranjak dari kursinya dan
bersimpuh menyejerkan tingginya dengan Rosa. Sontak Rosa sedikit ragu
dan mundur selangkah dari tempat ia berdiri sebelumnya.
“Ah,
maaf sudah mengagetkanmu. Rosalia, perkenalkan. Namaku Reza. Saudara
dari Ibu kandungmu, atau kamu juga bisa menyebutku ‘Paman’. Itu terserah
Rosalia sendiri mau memanggilku dengan sebutan apa. Tapi sebelumnya
Paman mau mengucapkan ‘selamat ulang tahun yang ke-6’ semoga menjadi
yang terbaik dari yang terbaik.” Lelaki itu berkata sembari menyerahkan
sebuah kotak besar yang terbungkus kertas berwarna merah muda dengan
pita merah di atasnya.
“Ini… “ Rosa merasa tak yakin kotak itu ditujukan padanya.
“Untuk
kamu Ros.” Lelaki itu meyakinkannya sekali lagi. Bahwa benda itu kini
milik Rosalia seutuhnya. Rosalia begitu senang, namun ia malu
mengekspresikan kesenangannya pada orang asing yang ia kenal dengan
sebutan ‘Paman Reza’. Meskipun ia baru mengenal lelaki itu, tapi ia
yakin bahwa Paman Reza adalah sosok orang yang begitu dermawan.
Bu
Rahmah tersenyum melihat keakraban mereka. Namun juga ada sedikit
kesedihan dalam hatinya. “Rosa. Bagaimana jika Paman Reza yang
merawatmu?” Tiba-tiba saja Bu Rahmah mengatakan suatu hal yang menarik
perhatian Rosa.“Maksud Ibu?”
“Sebenarnya,
Pamanmu kemari bukan hanya untuk merayakan ulang tahunmu.” Bu Rahmah
setengah menjelaskan. “Paman kemari, juga untuk menjemputmu.” Reza
melanjutkan penjelasan Bu Rahmah. “Menjemput?” Rosa masih belum mengerti
maksud dari pembicaraan mereka.
“Kamu
akan tinggal bersama Paman Reza, di Rumahnya. Dia yang akan merawatmu
menggantikan Ibumu. Mengadopsimu. Dan juga, karena pamanmu masih
berhubungan dengan keluargamu yang sebelumnya. Jadi… ” Bu Rahmah memberi
maksud. “Tapi aku juga punya keluarga di sini. Kak Lisa, Bu Rahmah,
Fika, Nida, Eva… kakak dan adik-adik yang lain juga. Semua keluargaku”
Rosa juga mencoba menjelaskan.
Bu Rahmah mengerti keadaan Rosa. Tapi ia juga tahu betapa ingin Rosa bertemu dengan keluarganya yang sesungguhnya.
“Tapi,
Paman itulah keluargamu yang sesungguhnya Rosa.” Lisa muncul, di tengah
perbincangan mereka. “Mereka, adalah keluargamu yang sudah ada, sebelum
kamu bertemu kami. Keluarga yang sesungguhnya. Kalau mereka tidak ada
di dunia ini, kamu juga tidak mungkin ada. Dan kamu juga tidak akan bisa
bertemu kami. Jadi, kembalilah ke keluargamu dan jangan lupakan kami di
sini. Ok? Rosa.”
Sesaat
Rosa mampu menahan tangisannya. Tapi, kemunculan Lisa membuatnya tak
kuasa menahan tangis. Sebentar Reza melihat ke arah Lisa dan melemparkan
senyuman dengan maksud berterima kasih, Lisa pun juga membalas senyuman
itu.
***
“Semua sudah?”
“Iya.”
“Nggak ada yang ketinggalan?”
“Ya, kayaknya sudah nggak ada Kak.”
“Rosa. Sudah siap?” Bu Rahmah masuk ke kamar Rosa untuk memastikan kesiapannya. “Iya. Sudah.”
“Lisa.
Tolong bawakan sebagian barang Rosa. Terus simpan di bagasi mobil yang
terparkir di depan.” Perintah Bu Rahmah. Tanpa membuang waktu Lisa
segera melaksanakan tugasnya. Bu Rahmah dan Rosa juga tak ketinggalan
segera menyusul.
Seluruh
penghuni Panti Asuhan ‘Kasih ibu’ telah berkumpul di Teras depan sejak
tadi. Menunggu Sang tokoh utama keluar. Reza juga tak kalah. Ia menunggu
keluarnya Rosa, sambil membantu membawakan barang keperluan Rosa yang
kemudian ia singgahkan di Bagasi.
Dan
Sang tokoh utama pun keluar. Semua diam. Hening menambah kepekatan
udara malam. “Mulai hari ini. Rosa akan tinggal bersama Pamannya. Dia
akan dirawat oleh keluarganya langsung.” Bu Rahmah memberi kumandang
informasi.
Sekali
lagi Rosa tak mampu menahan tangis. Dan yang lain pun ikut merasakan
apa yang Rosa rasakan. Kemudian Rosa memeluk dan bersalaman dengan
mereka, satu per satu. Sebagai tanda perpisahan, serta perjumpaan bagi
mereka kelak nanti.
Berlanjut,
Bu Rahmah, dan terakhir Lisa. “Baik-baik ya… jangan ngrepotin Pamanmu.
Karena dia sendiri yang akan menjaga kamu. Kalau ada waktu, sempatkan
untuk singgah ke sini. Semua pasti rindu sama kamu ‘si cerewet’. Hehehe…
“ Lisa menasihati Rosa untuk kesekian kalinya.
“Rosa. Pamanmu sudah menunggu di mobil.” Bu Rahmah mengingatkan. “Ah. Iya Bu.”
Rosa
pun beranjak dengan sedikit perasaan tak rela. Lalu ia masuk dan duduk
tepat di sebelah bangku kemudi. “Maaf Ros. Paman, nggak bermaksud
memisahkan kamu dengan keluargamu.”
“Nggak
apa-apa. Lagi pula aku sudah memutuskan pilihanku. Paman kan juga
keluargaku” Rosa berusaha untuk tersenyum dan menahan kesedihannya.
Karena, jika ia terus terlihat menyedihkan, itu hanya akan membuat
Pamannya merasa bersalah.
“Rosa,
Daaah..! Hiks.” Fika melambaikan tangannya sambil menahan isak tangis
karena ditinggal oleh saudara yang juga sudah seperti sahabat karib
baginya. Melalui jendela mobil yang terbuka, Rosa pun ikut melambaikan
tangan. “Terima kasih semua.” Dan kaca mobil menutup kembali.
***
“Tak
terasa, waktu begitu cepat. Bagaikan aliran air, dan aku adalah daun
kering yang terbawa olehnya. Begitu rapuh, juga mudah terombang-ambing
oleh arusnya. “
“Dan kini, aku di sini. Jika ku putar kembali waktu, dulu seakan seperti mimpi dalam tidurku.”
“Tuhan mempertemukanku dengannya, kini seakan peristiwa itu terasa biasa bagiku.”
“Tapi,
jika aku memutar kembali waktu dulu. Saat pertama kali aku bertemu
dengannya, peristiwa itu seakan ajaib bagiku. Luar Biasa.”
“Sabtu,
tiga puluh satu Desember. Dua ribu sebelas… “ Aku Rosalia Fernanda,
siswi kelas 3 SMP. Kehidupan baru ku berawal sejak aku tinggal bersama
Pamanku, Reza Anan (32). Dia seorang penulis novel. Paman yang cukup
bertanggung jawab atas hidup dan mati keponakannya. Kurang lebih sudah 9
tahun lamanya. Sebelum aku tinggal bersamanya, sudah ada seseorang yang
berada di sisinya. Tapi kini, sosok itu telah tiada tidak lama sebelum
ia menjemputku dulu. Sosok yang dicintai oleh pamanku, istri yang begitu
dicintainya.
“Rosa!
Sudah sediakan piring- gelasnya di meja makan?”Pemilik suara yang
berasal dari dapur itu adalah Paman. Hari ini giliran Paman yang membuat
makanan. Kami bergiliran, sesuai jadwal piket yang kami sepakati. “Ah.
Sebentar Za. Paragraph terakhir!” Dan sekarang aku juga sibuk mengetik
untuk ‘Enter’ blogku. “Sedikit lagi.”
“Ros.
Mana piringnya?” Dan sekarang Pamanku telah kembali dengan masakannya
yang siap untuk dihidangkan. Sedangkan aku belum menyiapkan satupun
piring dan gelas di atas meja. “Maaf , Za… “ Aku memasang tampang
memelas padanya. “Shut Down laptop mu, sekarang. Lalu singkirkan
dari meja makan. Kamu bisa melanjutkannya nanti.” Paman ku ini orang
yang baik. Tapi walaupun begitu, tidak selalu aku bisa bermanja-manja
padanya. Dia orang yang disiplin waktu. Jadi aku sering sekali
dinasihatinya. Pernah sekali aku dimarahinya. Dan itu membuatku
benar-benar trauma. Dia menyeramkan sekali kalau marah.
“Hm…
enak Za. Makin hari makin enak. Level masak Reza bertambah lagi ya...? “
Aku mencoba basa-basi. “Mau membuka pembicaraan atau mengalihkan
pembicaraan?” Paman ku ini juga orang yang berlidah tajam dan dingin.
“Iya iyaa… Aku kan sudah minta maaf tadi. Oh ya Za. Hari ini tanggal
berapa ya?” Aku mengganti topik obrolan, mencoba memancingnya. Dia ingat nggak ya?
“Hhm…
tanggal 31. Kamu itu ya. Segitunya banget, sampai lupa tanggal.
Makanya, liburan gini jangan males-malesan aja. Cepat pikun nanti, masih
kecil sudah pikun. Ponakanku tersayang. Ckckck” Ini dia sifat yang
paling aku tidak suka darinya. Jika berbicara, asal ‘ceplas-ceplos’.
Terutama jika itu tertuju padaku. Nggak ada manis-manisnya. Dan dugaanku memang benar, DIA LUPA HARI ULANG TAHUNKU!? Atau lebih tepatnya dia tidak peduli.
“Za.
Sekali-kali, aku mau berangkat ke sekolah tanpa harus diantar.” Aku
mengubah topik obrolan lagi, tapi kali ini tanpa basa-basi. “E? Kenapa
tiba-tiba?” sendoknya terhenti saat akan masuk ke dalam mulutnya. “Aku
mau coba untuk lebih mandiri.” Aku mencari alasan. “Tapi kamu masih SMP,
dan belum boleh bawa kendaraan pribadi. Kalo naik motor di sekitar
rum…” “Iya. Kalau itu aku juga tahu. Aku akan berangkat ke sekolah
dengan angkutan umum kok.” Aku berkata sambil menatap piringku yang
masih terisi oleh makanan, sebab aku tak berani menatap wajahnya
langsung. Dia marah tidak ya? Aku melakukan hal ini agar tidak
merepotkan Pamanku, sebab dia telah memberikan segalanya untukku. Rumah,
makan, pakaian juga pendidikan. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Kkrekk! Aku
mendengar deritan kaki kursi, yang ternyata itu kursi Pamanku. Dia
beranjak dari kursinya, dan berdiri meninggalkan meja makan. Dia benar-benar marah!?“Reza… ah, bukan maksudku Paman! Paman marah hanya karena aku tidak ingin diantar Paman lagi ke sekolah? Maaf…” Aku
pun juga ikut beranjak dari kursiku lalu ragu-ragu aku mendekatinya.
Khawatir nanti jika aku terkena imbasnya. Dia membalikkan badan dan
melihatku sebentar “Ha? Untuk apa aku marah? Aku mau ambil minum, kamu
lupa menyediakan minum di meja makan tadi.” Huft.. Ternyata mau ambil minum. Aku kira dia marah. Rasanya aku malu sendiri karena perbuatanku.
“Kamu
itu, kalo ada maunya manggil-manggil ‘Paman’. Ya, sudah. Itu terserah
kamu kalo mau berangkat tanpa harus diantar. Tapi kamu harus bisa jaga
diri, ya?” Tanpa ragu aku mengindahkan perintahnya “Siap Bos!” Sudah 9
tahun lamanya, dan aku bahagia bisa bertemu, juga berada di sisinya.
Semoga aku bisa terus bersamanya. Semoga.
***
Rosalia
Fernanda… Aku begitu menyayanginya. Seperti aku menyayangi Sinta.
Hingga aku takut jika harus kehilangan dia, seperti disaat aku
kehilangan Sinta. Begitu banyak hal yang kusembunyikan darinya.
Tentangku, juga tentang keluarganya. Tapi, ‘sepandai-pandai
menyembunyikan bangkai pasti akan tercium baunya’. Dan benar, itu
menjadi kenyataan yang harus kuhadapi saat ini.
Siang itu ibuku tiba-tiba datang ke rumah. Dia sudah mengetahui
keberadaan Rosa yang aku adopsi sejak awal. Ku kira kedatangannya untuk
memastikan keadaan Rosa. Tapi tidak untuk hari ini. “Aku ingin
menanyakan beberapa hal terkait Rosa. Kamu pasti sudah tahu tentang hal
ini. Dan kamu menyembunyikan hal ini dari ibu, Reza. Dan pasti, juga
menyembunyikan hal ini dari Rosa” Aku tak bisa berkata apa-apa lagi,
juga tak bisa menentang kebenaran itu.
Ruang tamu yang tak begitu luas ini membuatku semakin terpojokkan. “Ibu
Rosa masih hidup. Tapi kamu mengatakan pada ku kalau Ibu Rosa sudah
tiada. Apa maksudmu? Reza, kamu tahu sendirikan? Kita bukan keluarga
asli Rosa. Sampai kapan kamu mau menyembunyikan hal ini? Kalau dia
sampai tahu, apa jadinya nanti. Dia sudah pasti akan sangat kecewa.
Reza? Jangan hanya diam, jelaskan yang sebenarnya!”
Tiba-tiba saja aku mendengar langkah kaki seseorang. Memasuki rumah,
dan berhenti tepat di ruang tamu. “Rosa?” meskipun suara Ibu yang lirih,
aku langsung tersadar. Rosa yang sepulang dari sekolah. Tapi dari jam
berapa ia pulang?
Gadis itu terus menatapku tajam. Seakan sedang menatap sesuatu yang ia
benci. Wajahnya memerah seakan ia menahan sesuatu yang ingin ia
utarakan. “Pembohong!” kata yang pertama ia ucapkan adalah ‘pembohong’. Ya. Aku memang pembohong, penipu, pembual. Rosa
beranjak dari tempat ia berdiri, meninggalkanku yang hanya diam dan tak
dapat berkutik lagi.“Reza! Kamu mau diam sampai kapan? Kalau saja sejak
awal kamu mau menjelaskannya baik-baik dengan Rosa, tidak akan ada
kejadian seperti ini. Jelaskan alasanmu padanya. Dia pasti akan
mengerti. Karena dia bukan anak kecil lagi.”
Akupun mengindahkan permintaan Ibu. Ibu benar, aku tidak bisa terus diam seperti ini. Aku berjalan dengan cepat menuju lantai 2, kamar Rosa. Aku berusaha untuk tetap tenang dan tak mengacaukan keadaan. Tokk, tokk, tokk.. “Rosa?” Tapi tak ada jawab. Aku mencoba membuka pintunya, tapi tak bisa. Dia menguncinya dari dalam?“Rosa.
Dengarkan penjelasanku. Ku mohon. Ini yang terakhir. Dan aku tidak akan
mengulangi kesalahan itu lagi. Jadi aku mohon dengar penjelasanku.”
Walaupun aku baru akan menjelaskan , tapi tetap tak ada jawab.
“Dengar,
aku akan menceritakan tentang Ibu mu juga alasan mengapa aku
mengadopsimu. Jadi ku mohon, dengarkan. Itu… dulu sekali. Aku, Sinta,
Ayahmu juga Ibumu adalah teman dekat. Lebih dari itu, kita sudah seperti
keluarga. Dan disaat Ibumu sedang hamil muda, Ayahmu meninggal.
Akhirnya, karena keadaan ekonomi juga karena tak ada kerabat yang mau
menerima kalian, Aku dan Sinta berinisiatif merawat Ibu mu hingga kau
terlahir. Ibumu, dia ingin bisa menghidupimu dengan usahanya sendiri.
Dan kemudian pergi meninggalkan rumah kami untuk membangun rumah
sendiri, karena dia tak ingin akan lebih merepotkan kami lagi. Tapi,
selang beberapa tahun kemudian, dia mengirimkan surat. Dia mengakui
belum sanggup untuk menghidupimu dan menitipkanmu di Panti Asuhan, dan
memohon pada kami untuk menjemputmu disaat kamu berumur 6 tahun, dan
jika dia sudah merasa sanggup untuk menghidupimu, dia akan menjemputmu.
Aku dan Sinta saat itu begitu antusias untuk menjemputmu, tapi beberapa
bulan sebelum kami akan menjemputmu. Sinta meninggal. Dan aku sendiri.
Tapi aku tetap menjalani amanah Sinta untuk merawatmu…”
Kreeek.. pintu
kamar nya pun terbuka. Dia terus menundukkan kepalanya. Aku mencoba
menyentuh wajahnya dan menengadahkannya.Tampak wajahnya begitu mendung.
Matanya merah bengkak, menandakan dia sehabis menangis. Dia menatapku
kosong. “Maafkan aku Rosa… “ Dia lalu menepis tanganku dari wajahnya.
Namun tetap menatapku kosong. “Apa aku sebegitu tak bergunanya. Sampai
dia membuangku?” Air itu ternyata tak cukup berhenti, setetes, lalu
menyusul tetesan lain dari ke-2 pelupuk matanya. “Dia melakukan itu
bukan untuk membuangmu. Tapi dia hanya belum mampu untuk
membahagiakanmu. Dia sudah berjanji akan menjemputmu kelak. Jadi
percayalah.” “Lalu, kenapa kamu menutupi kebenaran ini?”
“Aku takut. Kalau-kalau kamu tau aku bukan keluargamu. Kamu tidak akan
mau tinggal bersamaku.” Aku tak bisa menatapnya. Aku benar-benar
pengecut. “Tapi kamu bilang. ‘Aku, sinta dan ibumu sudah seperti
keluarga’. Yang berarti aku juga keluargamu. Kan?” Aku memberanikan diri
untuk menatapnya. Tapi tiba-tiba saja, tanpa ku duga. Dia memelukku.
“Aku memaafkanmu. Jadi ku mohon Reza! Jangan pernah menutup-nutupi
sesuatu dariku, atau berbohong padaku lagi! Aku menyayangimu, seperti
aku menyayangi Ibu. Berjanjilah!”
“Ya. Aku berjanji Rosa. Terima Kasih sudah memaafkanku. Aku juga menyayangimu.”
CERPEN
PESAN
PENDEK DARI SAHABAT
Oleh :
Miftah Iswahyudi (19) (XD)
Aku telah kehilangan dia mungkin sekitar 30 tahun, sejak kerusuhan di Ibu Kota itu meletus dan nyawa-nyawa membubung bagai gelembung- gelembung busa sabun: pecah di udara, lalu tiada.
Waktu itu, di tengah kepungan panser yang siap menggilas siapa saja, doaku sangat sederhana: semoga Tuhan belum berkenan memanggilnya. Dia terlalu muda dan berharga untuk binasa, apalagi dengan cara yang mengenaskan. Aku ingin melanjutkan doa yang terlalu singkat itu, namun mendadak senapan-senapan menyalak dan tubuh-tubuh tumbang, menambah jumlah mayat yang terserak-serak.
Jalanan aspal makin menghitam disiram darah. Amis. Aku pun berharap segera turun hujan atau setidaknya gerimis agar jalanan itu sedikit terbasuh dan suasana rusuh itu sedikit luruh.
Ketika kerumunan massa bergerak dan merangsek istana, aku masih melihat dia berdiri di atas tembok, mengibas-ngibaskan bendera sambil berteriak-teriak. Kerumunan orang-orang pun makin merangsek: mencoba menumbangkan pagar besi istana. Entah berapa batalyon menghadangnya. Terjadi aksi saling dorong. Lalu, suara senapan menyalak. Lalu tubuh-tubuh tumbang. Aku pun mencoba mendongakkan kepala di tengah tubuh-tubuh yang rubuh menimbun tubuhku. Aku ingin melihatnya kembali, apakah dia masih berdiri di atas tembok. Namun, dia telah tiada. Perasaanku gusar. Hatiku gemetar. Dan, sesudah kerusuhan itu reda, beredar kabar lebih seratus demonstran tewas. Tidak sampai seminggu, gerakan massa itu berhasil memaksa Presiden Clawuz turun dan rakyat pun bisa bernapas kembali.
Siang itu, setelah rapat di kantor, sekretarisku memberi tahu ada seorang laki-laki yang mencariku. Katanya, laki-laki itu sekarang tertahan di pos keamanan. Aku menyuruh ajudanku untuk melihatnya. Tiga menit kemudian, ajudanku menghadapku dan bilang, laki-laki itu mengaku bernama Gardaz dan mengaku kawan lamaku. Dengan perasaan bahagia, kusuruh ajudanku menjemputnya.
Aku terperanjat. Ya, tamu itu benar-benar Gardaz, kawan lama yang terakhir kulihat di kerusuhan Ibu Kota, 30 tahun lalu. Aku mencoba memeluknya, tapi ia mencegah dengan senyumnya yang kurasakan sangat getir. Ia mundur dua langkah dan memberi isyarat agar aku tidak menyentuhnya. Aku diam mematung, tertegun. Kutatap dia lekat-lekat. Aku masih melihat sorot matanya yang tajam; bola matanya yang dilingkari api. Namun, keindahan dan ketajaman mata itu sangat tidak sebanding dengan tubuhnya yang kurus, hitam, atau dengan wajahnya yang makin tirus dengan tonjolan tulang pipi. Juga, kaus dan celananya yang lusuh. Kuku-kuku jari tangannya panjang dan hitam. Rambut panjangnya hampir seluruhnya memutih. Hatiku terasa menggigil. Perasaanku teraduk-aduk. Aku ingin kembali memeluk. Tapi, ia menolak dengan senyumnya yang lagi-lagi getir.
Aku meminta ajudanku meninggalkan kami. Aku mengajak dia masuk ruang tamu. Namun, ia kembali tersenyum, pahit. Ia memintaku untuk tidak repot. Katanya, pertemuan ini sudah sangat membahagiakan dirinya.
Membahagiakan? Aku membatin. Aku justru menjadi kurang berbahagia karena ia menolak kupeluk, menolak kupersilakan masuk. Padahal, aku sangat ingin merasakan kehangatan persahabatan yang telah 30 tahun terputus. Aku juga ingin tahu keadaan dirinya, ke mana saja dia dan apa pekerjaannya sekarang.
Aku lebih dari sekadar kagum pada dia. Ya, Gardaz, mahasiswa paling cerdas dan paling berani berdemonstrasi melawan tirani. Aku mengenalnya lingkaran diskusi kampus: aku kuliah di fakultas ilmu sosial politik, dia kuliah di filsafat. Diskusi kami selalu mendidih, mencoba menyingkirkan banyak sepatu lars yang berderap-derap di kepala dan rongga dada. Namun, mengenyahkan sepatu lars itu tidak gampang; berulang kali beberapa teman kami digelandang dijebloskan ke sel tahanan. Tentu termasuk Gardaz.
Sebenarnya Gardaz tidak perlu ditangkap dan ditahan petugas waktu itu karena hari itu ia tengah sakit dan tidak terlibat diskusi. Namun, ketika ia mendengar kabar bahwa aku ditangkap dan ditahan, ia mendatangi komandan daerah militer di kota Margaz. Dia minta aku dibebaskan, dengan jaminan dirinya. Ia mengaku sebagai penanggung jawab diskusi.
Pengorbanan Gardaz sangat sulit kulupakan. Sampai sekarang. Juga pengorbanan lainnya: ketika aku sakit ia merelakan uang kuliahnya untuk menebusku dari rumah sakit, ketika aku terlambat menerima kiriman uang dari desa, dia menanggung hidupku untuk beberapa minggu dan jasa baik lainnya. Ia selalu meminta aku untuk melupakan jasa baiknya, setiap aku ingin membalasnya atau menyahur utang-utangku.
Semula aku menyangka orang tua Gardaz kaya. Namun, ternyata ia anak orang biasa seperti aku: anak petani. Dari mana dia mendapat uang? Ternyata dia bekerja sambil kuliah. Dia bekerja di pabrik kecap pada malam hari.
Diam-diam di pabrik kecap itu dia membentuk organisasi pekerja dan sering melakukan banyak kegiatan. Para pekerja itu dididiknya untuk memiliki kesadaran hak. Gerakan ini dicium pemilik pabrik. Akhirnya, bersama beberapa temannya dia dipecat.
”Sejak kerusuhan itu meletus, kamu ke mana?” tanyaku.
Gardaz tersenyum, pahit. ”Aku pulang ke desa. Tapi ternyata aku tidak berbakat jadi petani….”
”Sekarang?”
”Ya, tetap konsisten jadi … gelandangan.”
Kami tertawa. Terlihat gigi-gigi yang hitam dibakar asap rokok.
”Aku senang kamu menjadi gubernur di Margaz, kota yang sangat kita cintai. Tidak sia-sia kamu jadi kader partai…,” ujarnya.
Aku kurang senang dengan ucapannya itu. Teman-temanku yang lain sering mengejekku dengan menyebutku ”Baginda Gubernur”. Mereka menganggapku sebagai pejuang yang menyerah kepada kekuasaan yang dulu sama-sama kami lawan. Tapi, aku tidak merasa bersalah dengan pilihanku. Melihat aku terdiam, Gardaz kembali bicara.
”Swear, aku senang kamu bisa jadi Gubernur, jabatan yang sangat terhormat.”
Semoga dia tulus, aku membatin. ”Terima kasih. Eee… maaf mungkin aku bisa membantumu, Bung…?”
”Thanks. Aku tidak membutuhkan pertolongan atau pekerjaan. Aku hanya membutuhkan hatimu…. Hatimu,” ujarnya lirih, tapi kurasakan sangat perih.
Aku menatapnya. Aku ingin mengucapkan banyak kalimat, tapi lidahku terasa tercekat.
”Kamu tahu yang kuinginkan? Okay, selamat siang.”
Dia melangkah pelan, keluar ruangan. Tubuhku terasa aneh, sulit kugerakkan untuk mencegahnya.
Apa yang salah dengan hatiku? Pikirku.
Kehadiran Gardaz dengan cepat menguap dari kepalaku, ketika banyak urusan dinas mengepungku dan menekanku. Aku tersekap dalam urusan pembangunan mal, apartemen-apartemen mewah, jembatan, rumah sakit kelas internasional, dan proyek lainnya. Aku tersekap dalam angka-angka yang berderet-deret sepanjang bentangan keinginan. Aku terkapar di dalamnya.
Aku terbangun dari timbunan angka-angka. Kuedarkan pandangan mataku. Aku sedikit kaget melihat ruangan serba putih, melihat selang-selang infus, melihat orang-orang berpakaian serba putih.
Anak dan istriku memelukku. Mereka kularang untuk menangis. Istriku bilang, aku terkena serangan jantung koroner, namun tidak terlalu serius dan sudah teratasi. Dokter pun telah mengizinkan aku pulang.
Istriku mencegahku. Dia memintaku untuk bertahan di rumah sakit sehari atau dua hari lagi. Atau kami tinggal di hotel beberapa hari.
”Kenapa?”
Istriku tersenyum, ”Ya, agar papa makin sehat saja atau bisa lebih tenang….”
Akhirnya kami tidur di hotel paling mewah di kota Margaz. Orang-orang kantor mengunjungiku untuk meminta tanda tangan atau membicarakan urusan lainnya. Ketika kurasakan keadaanku membaik, aku minta segera pulang ke rumah. Aku sudah sangat rindu mencium bau bantal atau memakai sandal rumah yang nyaman. Tapi, istriku mencegahku. Aku memaksa, tapi ia tetap memintaku tinggal di hotel.
”Sudah seminggu ini rumah kita didatangi orang-orang tak dikenal. Pakaian mereka lusuh. Ucapan-ucapan mereka sangat kasar. Katanya, mereka korban penggusuran pembangunan mal di daerah Kraz,” ujar istriku sambil menggenggam tanganku.
Mendadak handphone mengisyaratkan ada pesan pendek yang masuk. Langsung kubuka. ”Aku hanya butuh hatimu, kawan.” Begitu pesannya.
Napas dalam-dalam kuhela. Jelas itu pesan pendek dari Gradaz. Tapi dari mana Gardaz tahu tahu nomor handphone-ku?
”Benar. Aku Gardaz. Aku tahu nomor HP-mu dari seorang perempuan, katanya sih pacarmu….”
Gila. Pacarku yang mana? Gristha? Gretha? Sylha? Deerva? Atau Dumma?
Muncul lagi kiriman pesan: ”Salah satu dari mereka”.
Bagaimana Gardaz bisa mengenalnya?
”Gadis itu kukenal saat aku mengunjungi ibunya yang rumahnya kamu gusur untuk mal, Bung”.
Huruf-huruf di dada handphone itu terasa berdesak-desak di benak. Kepalaku terasa berputar-putar.
”Are you okay, Pa?” istriku menyeka keringat di keningku.
Aku mengangguk. Beberapa menit kemudian datang pesan pendek dari Gardaz.
”Aku hanya butuh hatimu. Aku percaya, kamu tetap orang baik….”
Kalimat itu terasa meremas jantungku. Aku ingin menjawabnya: diriku sangat tidak layak menjadi teman Gardaz yang mampu bertahan untuk tetap bersih berkilau seperti orang- orang suci atau nabi.
”Kamu ingat diskusi kita tiga puluh tahun lalu, tentang kelas menengah yang selalu berkhianat, kawan?”
Jantungku berdebar membaca pesan itu. Tanganku gemetar. Kepalaku terasa berputar-putar. Tubuhku seperti melayang dan akhirnya tumbang. Istriku menjerit. Dokter datang. Tabung oksigen disalurkan di hidungku.
Tubuhku sangat lemas, namun sesak dadaku sudah sangat berkurang. Kepalaku juga semakin ringan. Namun, bayangan wajah Gardaz bersama para korban penggusuran itu terus memenuhi benakku. Mereka berjalan berderap-derap, dengan sorot mata nanar, dengan gigi-gigi gemeretak ingin mengerkah kepalaku.
Aku berhasil mengempaskan mereka. Tubuh-tubuh mereka seperti terurai, namun dalam beberapa detik menyatu, mengkristal dan menggumpal kembali. Tatapan mata mereka nanar.
”Aku hanya butuh hatimu, kawan.” Huruf-huruf pesan pendek itu timbul-tenggelam di kepala. Dan dari kejauhan, kulihat Gardaz tersenyum. Pahit. Aku mencoba mengejar dan memeluknya, namun dia terus memelesat di antara gumpalan awan menuju cakrawala. Langkahku sangat lamban serupa reptil melata. Dia semakin jauh, semakin jauh. Tak terkejar.
Aku merasa kehilangan seorang kawan, sahabat yang sangat kukagumi. Namun, aku tak pernah berharap dia kembali lagi. Aku tak mungkin bisa berkawan dengan orang suci atau manusia yang sangat berbakat jadi nabi.
Langganan:
Postingan (Atom)